BAUBAU, (PANTAUTODAY) – Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Baubau mencatat telah menangani sebanyak 183 kejadian kebakaran hingga 20 Oktober 2026. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mendominasi dengan 145 kejadian, terutama pada lahan di sekitar permukiman warga.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Baubau, La Ode Ali Hasan mengatakan, tingginya kasus karhutla dipengaruhi kondisi musim kemarau dan fenomena El-Nino. Kebakaran kerap terjadi ketika masyarakat membersihkan lahan perkebunan untuk persiapan penanaman.
“Selama musim kemarau ini, kebakaran lahan akan tetap terjadi karena kondisi panas yang tinggi, sehingga lahan-lahan masyarakat mudah terbakar,” kata La Ode Ali Hasan, di Baubau, Selasa (20/10/2026).
Berdasarkan data Damkar Baubau, selain 145 kejadian karhutla, terdapat 16 kejadian kebakaran akibat pembakaran sampah yang meluas dan tidak terkendali. Kebakaran juga melanda bangunan warga dan pondok sebanyak 10 kejadian, pepohonan lima kejadian, bangunan atau tempat usaha lima kejadian, serta kendaraan dua kejadian.
Ali Hasan mengatakan, petugas berupaya merespons setiap laporan masyarakat dengan cepat, terutama ketika api mendekati kawasan permukiman. Waktu respons rata-rata penanganan kebakaran di Baubau berada di bawah 15 menit.
“Setiap ada laporan, kami langsung menindaklanjuti dengan waktu respons rata-rata di bawah 15 menit sesuai target yang ditetapkan Kementerian Dalam Negeri,” ujarnya.
Menurutnya, kecepatan penanganan tersebut membantu mencegah api meluas dan menekan dampak yang lebih besar. Hingga Oktober 2026, Damkar Baubau belum mencatat korban jiwa maupun kerugian material besar dari kejadian yang ditangani.
Untuk mengantisipasi kebakaran selama musim kemarau, Damkar Baubau mengimbau masyarakat tidak membakar sampah maupun sisa ranting saat membersihkan kebun. Warga diminta mengumpulkan sisa tebasan tanpa membakarnya karena api dapat merambat ke lahan lain dan kawasan permukiman.
Masyarakat juga diingatkan agar tidak membuang puntung rokok sembarangan, terutama di area lahan kering. Imbauan tersebut disampaikan langsung kepada warga maupun melalui camat dan lurah.
Dalam mendukung pelayanan, Damkar Baubau memiliki empat pos layanan yakni di Kecamatan Betoambari, Wolio, Bungi, dan Sorawolio, serta Markas Komando di pusat kota. Setiap pos diperkuat personel dan kendaraan pemadam untuk mempercepat penanganan kebakaran di wilayah layanan masing-masing.
Ali Hasan menjelaskan, setiap pos saat ini memiliki sekitar enam personel, sedangkan kebutuhan ideal mencapai 10 orang. Penambahan personel diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pelayanan pemadaman sesuai standar pelayanan minimal.
Selain petugas pemadam, Damkar Baubau telah membentuk relawan di setiap kelurahan dengan jumlah sekitar 30 orang per kelurahan. Relawan tersebut diharapkan membantu mempercepat penyampaian informasi dan penanganan awal ketika kebakaran terjadi di lingkungan masyarakat.(Adm)












