BAUBAU, (PANTAUTODAY.COM) – Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Radio Republik Indonesia (RRI), RRI SP Baubau berkolaborasi dengan PT. PELNI (Persero) Cabang Baubau, Sulawesi Tenggara, melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) menggelar aksi penanaman 500 bibit mangrove. Kegiatan ini dipusatkan di pesisir Kelurahan Kolese, Kecamatan Lea-Lea, Kota Baubau, Selasa (2/9/2025).
Penanaman tersebut disambut antusias oleh masyarakat setempat, dari orang tua hingga anak-anak turut berpartisipasi. Mereka berharap, pesisir Kolese terlindungi dari abrasi dan angin laut yang sering mengancam rumah-rumah warga.
Sebelum aksi tanam mangrove, RRI Baubau juga mengadakan dialog interaktif luar studio di lokasi. Hadir sebagai narasumber, Plt. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Baubau Amiruddin, Koordinator RRI SP Baubau Atto Raidi, Kepala Cabang PT. PELNI Baubau Djasman, dan Lurah Kolese Muhlisi.
Koordinator RRI SP Baubau, Atto Raidi, menyebut penanaman mangrove ini menjadi bagian dari komitmen menjaga lingkungan pesisir sekaligus selaras dengan Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka, khususnya poin memperkuat kehidupan harmonis dengan alam dan budaya.
“Mangrove adalah benteng alami bagi masyarakat pesisir. Terima kasih kepada PT. PELNI yang sudah berkolaborasi. Semoga tahun depan kita masih bisa bersama, memberikan manfaat bagi masyarakat,” tambah Atto.
Kepala Cabang PT. PELNI Baubau, Djasman, merasa senang program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaannya bisa bersinergi dengan RRI. “Seperti orang bilang, gayung bersambut. Kegiatan ini cocok dengan rencana kami,” ungkapnya.
Djasman menjelaskan bahwa PT. PELNI menaruh perhatian pada ekosistem laut karena aktivitas transportasi kapal bisa berdampak pada lingkungan pesisir. “Mangrove ini berfungsi sebagai breakwater, penahan gelombang agar tidak langsung menghantam daratan. Bisa dibilang mangrove itu benteng pesisir,” jelasnya.

Plt. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Baubau, Amiruddin menegaskan pentingnya hutan mangrove bagi kawasan pesisir. “Pertama, mangrove menjaga garis pantai dari serangan gelombang sehingga mencegah abrasi. Kedua, berfungsi sebagai benteng alami yang dapat meredam bencana, termasuk gelombang besar,” paparnya.
Selain itu, ia menambahkan bahwa mangrove adalah habitat penting bagi biota laut bernilai ekonomi tinggi seperti udang, lobster, dan ikan. Bahkan, beberapa jenis mangrove dikenal sebagai “apotek hidup” karena bisa dimanfaatkan sebagai bahan obat atau pangan.
Lurah Kolese, Muhlisi, menyampaikan bahwa penanaman mangrove ini sangat dibutuhkan warganya. Ia menceritakan, wilayahnya kerap dilanda ombak dan angin kencang. “Pernah juga ketika kapal cepat dulu melintas, ombaknya sangat besar hingga menghantam rumah-rumah warga,” kenangnya.
Muhlisi menambahkan, hampir setiap tahun air pasang masuk ke rumah warga, bahkan yang paling parah atap rumah sampai terendam ombak.
“Karena itulah, mangrove menjadi benteng alami yang melindungi warga Kolese. Bagi kami, mangrove bukan hanya pohon, tetapi benteng pertahanan dari abrasi, ombak, dan angin laut. Kami sangat mendukung program ini dan berharap hutan mangrove di Kolese bisa semakin luas,” harapnya.(Adm)












