Dispar Baubau Naikkan Target PAD 2025

Kadis Pariwisata Kota Baubau, Idrus Taufik Saidi

BAUBAU, (PANTAUTODAY.COM) – Kinerja sektor pariwisata Kota Baubau mencetak lompatan luar biasa. Hingga Oktober 2025, realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari retribusi objek wisata menembus angka Rp152 juta lebih. Angka fantastis ini memaksa Dinas Pariwisata menaikkan target PAD 2025 secara drastis, dari Rp100 juta menjadi Rp180 juta.

​Lonjakan ini bukan kebetulan, melainkan tren positif yang konsisten. Sejak Dinas Pariwisata (Dispar) Baubau dipimpin Dr. Idrus Taufik Saidi pada 2021, realisasi retribusi wisata terus meroket dari puluhan juta hingga menembus ratusan juta. Buktinya, tahun 2024 lalu saja realisasi sudah mencapai Rp142 juta.

Kepala Dispar Baubau, Idrus menjelaskan bahwa PAD secara umum berasal dari pajak dan retribusi. Pihaknya membantu peran Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) dalam mengurus karcis kunjungan destinasi wisata.

Ia mengatakan, saat ini, penarikan retribusi secara maksimal baru pada objek wisata yang dikelola pemerintah yakni Batu Sori dan Benteng Keraton Wolio termasuk kios kuliner di Batu Sori.

Hanya saja Idrus mengakui, adanya tantangan, seperti pengembangan kios kuliner di Batu Sori. “Ini menjadi pekerjaan rumah (PR) untuk memastikan masyarakat tetap memanfaatkan fasilitas tersebut,” tuturnya, Rabu (12/11/2025).

​​Kepala Dispar Baubau mengungkapkan potensi lain untuk menggenjot PAD, yaitu dari tempat hiburan dan kawasan pesisir. Namun, kendala saat ini, belum adanya Perda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi yang bisa disinkronisasi.

“Usulan revisi Perda RTRW di masa depan akan mencakup pemanfaatan 40 km sisi pantai Baubau. Kawasan ini, mulai dari Pantai Nirwana hingga Kelurahan Palabusa, bisa didekatkan dengan urusan kepariwisataan,” tuturnya.

​Selain itu, kawasan Kelurahan Ngkari-Ngkari juga diusulkan untuk dikembangkan sebagai agrowisata. Pemanfaatan lahan kering di sana diharapkan dapat membuka pintu masuk PAD dari sektor pariwisata.

Selain itu, kata Idrus, pihaknya juga menggarap potensi wisata alam Tirta Rimba. Saat ini sedang disusun draf MoU dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) untuk pengelolaannya.
​Tirta Rimba direkomendasikan seluas kurang lebih 9 hektare, termasuk air terjun dan kawasan datar untuk camping ground.

“Namun, itu harus ada infrastruktur pemerintah yang masuk di dalam kawasan itu, kemudian ada perjanjian kerjasama untuk bagi hasil,” jelasnya.

Idrus mengatakan, ​Baubau sendiri memiliki tiga jenis wisata utama yakni wisata alam mencakup laut, air terjun, hutan, wisata buatan mencakup tempat rekreasi dan kuliner dan wisata budaya
terpusat di Benteng Keraton Wolio. Wisata budaya mencakup religi, tarian, sanggar dan kuliner.

Sementara itu, ia mengatakan, ​untuk objek wisata alam seperti Hutan Pinus Samparona, harus ada perjanjian kerja sama dengan pihak kehutanan. Samparona, yang memiliki paket air terjun, menjadi salah satu destinasi hutan terbaik di Sulawesi Tenggara.

​Dispar Baubau sudah menginisiasi kerja sama melalui Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dengan pihak Kehutanan melalui Kelompok Tani Hutan setempat. Pihaknya juga telah membantu pembangunan infrastruktur tambahan seperti musala dan baruga di sana.

​Idrus berharap, tahun depan pemanfaatan infrastruktur dan kerja sama dapat berjalan. Tujuannya agar destinasi alam Samparona dapat memberikan manfaat optimal bagi pemerintah dan masyarakat setempat.(Adm)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *