BAUBAU, (PANTAUTODAY.COM) – Di balik deru mesin kapal feri dan riuh rendah aktivitas pelabuhan, terukir kisah perjalanan seorang pria yang tak hanya piawai memimpin, tetapi juga merangkul hati. Jamaluddin, General Manager (GM) PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Baubau, bukanlah sosok yang asing di lautan nusantara.
Mengarungi samudra sejak 1991 pada perusahaan BUMN, ia telah menjejakkan kaki di berbagai pelosok, dari Luwuk hingga Selayar, Merak, Bajoe, dan Biak. Namun, Baubau menjadi babak paling berkesan dalam karirnya, sebuah tempat di mana ia menorehkan pencapaian gemilang.
Selama memimpin ASDP Baubau sejak Agustus 2023, Jamaluddin tak hanya berbicara tentang angka-angka, tetapi tentang dedikasi dan inovasi. Di bawah kepemimpinannya, cabang ini berhasil menyabet posisi kedua kinerja terbaik se-Indonesia pada 2024.
Pencapain itu berdampak pada penerimaan bonus tertinggi bagi seluruh karyawaan, hanya kalah dari ASDP cabang Merak yang legendaris di Selat Sunda.
“Ini salah satunya karena pembukaan lintasan baru dan upaya penekanan kebocoran di lapangan,” ujar Jamaluddin dengan lugas, di Baubau, Rabu (24/9/2025).
Misi Perusahaan dan Misi Kemanusiaan
Pencapaian ini bukan sekadar kebetulan. Ini adalah hasil dari strategi yang matang dan berani. Lima lintasan baru berhasil dibuka di bawah kepemimpinannya yakni Labuan-Sawaea, Batauga-Siompu, Baubau-Talaga, Talaga-Mawasangka, dan Torobulu-Tondasi. Penambahan ini menjadikan total lintasan di wilayah ASDP Baubau kini mencapai 19 dengan 14 armada kapal.
Menurut Jamaluddin, ASDP mengemban dua misi yakni misi komersial dan misi penugasan. Misi penugasan ini adalah yang paling menyentuh, yaitu membuka isolasi daerah dan memutar roda perekonomian.
“Kami berperan untuk peningkatan taraf hidup masyarakat dan perputaran ekonomi. Walaupun ada kapal rakyat, mereka tidak bisa mengangkut truk. Sementara untuk kelancaran roda ekonomi, butuh percepatan,” jelasnya.

Kapal feri mampu memuat logistik dalam jumlah besar, sebuah hal yang mustahil dilakukan kapal kayu. Ini menjadi kunci vital dalam distribusi barang dan jasa, yang pada akhirnya akan mempercepat pertumbuhan ekonomi lokal.
Ketika kapal feri berlabuh, denyut nadi kehidupan di pulau-pulau terpencil pun berdetak lebih cepat. Sebaliknya, saat kapal harus naik dok, perputaran ekonomi pun melambat.
Contoh nyata terjadi pada lintasan Kendari-Konkep. Awalnya, lintasan ini merupakan perintis dengan subsidi pemerintah. Namun, berkat peningkatan performa, pada Januari 2024 lintasan ini berubah menjadi komersial. Artinya, pemerintah melepas subsidi karena lintasan tersebut sudah mampu mandiri. Momen ini dimanfaatkan ASDP Baubau untuk menambah frekuensi pelayaran, yang secara langsung meningkatkan produksi dan pendapatan.
Prinsip Kecil, Dampak Besar
Di balik strategi besar, ada hal-hal kecil yang menjadi kunci keberhasilan. Jamaluddin menekankan pentingnya efisiensi dan penghematan, mulai dari hal terkecil. “Hal-hal kecil tapi apabila dikumpulkan itu akan banyak juga,” katanya.
Ia mencontohkan, efisiensi penggunaan listrik di kantor yang berhasil ditekan dari Rp9 juta menjadi Rp5 juta per bulan. Penghematan juga dilakukan di pelabuhan dengan menggunakan Anjungan Listrik Mandiri (ALMA), yang memungkinkan kapal menyambung listrik dari darat alih-alih menggunakan genset yang boros bahan bakar. “Itu bisa efisiensi puluhan juta sebulan,” ujarnya.
Ia bahkan mendisiplinkan jajarannya hingga ke hal sepele. “Kamu punya printer di kantor, kamu on, kamu pulang tapi on. Cuma lima watt. Tapi kalau dia satu bulan berapa, satu tahun berapa? Nah, itu akan terakumulasi biayanya,” ungkapnya.
Penggunaan kertas bekas untuk konsep atau draf juga menjadi kebiasaan yang ia terapkan. Prinsip sederhana ini, yang berfokus pada detail terkecil, tapi pada akhirnya memberikan dampak besar pada kinerja perusahaan.
Selain efisiensi, Jamaluddin juga tidak segan-segan mengambil tindakan tegas terhadap kebocoran. Selama memimpin, ia telah memecat dua orang yang terbukti melanggar aturan, menjadikannya pelajaran berharga bagi yang lain.
“Tak mungkin mengawasi satu per satu awak kapal selama 24 jam. Jadi kita mengedepankan edukasi dan keteladanan kepada teman-teman di lapangan. Di saat pendapatan kita meningkat, kinerja kita meningkat, imbasnya akan ke kita juga,” tegasnya.
Merangkul Hati, Menuntaskan Masalah
Namun, strategi terpenting Jamaluddin bukanlah tentang angka atau efisiensi, melainkan tentang kepemimpinan yang humanis. Ia memiliki filosofi yang kuat dalam menghadapi masalah yakni jangan dihindari, hadapi dan selesaikan.
“Kalau ada ABK bermasalah, saya usulkan untuk pindah. Berarti saya tidak menyelesaikan masalah. Masalah itu tetap ada di cabang, cuma memindahkan,” jelasnya. Prinsipnya, setiap masalah harus dituntaskan sampai akar-akarnya.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya sinergi dan koordinasi, baik internal maupun eksternal. Di lingkungan internal, ia merangkul seluruh karyawan. “Saya memeluk bukan hanya fisik. Saya memeluk hati kalian. Dan itu saya buktikan,” ujarnya.
Jamaluddin membuka jalur komunikasi langsung dengan seluruh 353 karyawannya, termasuk para anak buah kapal (ABK). Ia tak pernah mematikan ponselnya, siap menerima telepon kapan pun, bahkan di tengah malam. Ia percaya, dengan merangkul hati, misi apapun yang ia sampaikan akan didukung sepenuhnya.
“Di saat hatimu saya rangkul, saya ngomong apapun, misi saya apapun, saya sampaikan, pasti nurut,” katanya pria murah senyum ini.
Di sisi eksternal, ia menganggap setiap daerah sebagai “kampung orang” yang harus dihormati. “Kalau kami tidak baik sama tuan rumah, bagaimana kami bisa mencari rezeki di kampungnya orang?” ungkapnya. Ini menjadi landasan kuat bagi sinerginya dengan para pemangku kepentingan, yang kerap menghadapi tantangan regulasi yang kaku.
“Ada hal-hal yang sebenarnya yang tidak diatur oleh regulasi dan itu membutuhkan kebijakan, tapi tujuannya untuk pelayanan masyarakat,” tandasnya.
Pesan untuk Penerus: Ikhlas dan Tulus
Sebagai GM yang akan segera purna tugas pada 4 Oktober 2025, setelah 34 tahun mengabdi, Jamaluddin meninggalkan warisan berharga. Baginya, tugas di Baubau adalah yang terlama dan paling berkesan, setelah hanya hitungan bulan di cabang-cabang lain.
“Saya kira kita berangkat dari niat yang ikhlas dan tulus. Terus kita merangkul. Bukan cuma di fisik tapi dengan hati kita merangkul. Insya Allah itu endingnya akan baik,” pesannya untuk para generasi penerus.
Dari Baubau, Jamaluddin membuktikan bahwa kepemimpinan sejati tidak hanya diukur dari pencapaian finansial, tetapi juga dari kemampuan untuk menggerakkan hati, menyelesaikan masalah, dan memberikan pelayanan tulus kepada masyarakat. Kisahnya adalah pengingat bahwa di balik setiap kesuksesan, ada niat yang ikhlas dan kerja keras yang tak kenal lelah.(Adm)












