BAUBAU, (PANTAUTODAY.COM) – Selama 25 tahun menjadi honorer, Hamadji menggantungkan harapan bisa terangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), namun hasilnya tak pernah berpihak. Hingga akhirnya pada tahun 2005, ia benar-benar berhenti berharap. Tapi justru dari titik terendah itulah, hidupnya mulai berubah.
Berbekal selembar sertifikat tanah dari program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL), ia kini bertransformasi menjadi seorang pengusaha sukses dengan memiliki galangan kapal di Kabupaten Buton Selatan dan deretan ruko digenggamannya.
Hamadji bukan sekadar berani bermimpi. Ia berani bertindak. Ketika pintu PNS tertutup, ia mencari celah lain. Dari sertifikat tanah yang ia miliki, yang tersebar di Kota Baubau dan Buton Selatan dengan total luas 20 hektar, menjadi kunci pembuka gerbang rezeki.
“Artinya kita kerja ini mana yang menguntungkan. Tapi dasarnya kita dengan sertifikat ini, Bank percaya kita,” ungkap Hamadji ditemui usai menerima sertifikat tanahnya di Kantor Pertanahan Baubau, Selasa (22/7/2025).
Bagi Hamadji, sertifikat tanah bukan hanya secarik kertas legalitas. Tetapi membantunya bangkit dari keterpurukan. “Kalau kita mau minta sama orang tua kita uang, tidak mungkin dia kasih kita seperti itu. Tapi dengan selembar (sertifikat) begini, terus terang saja, kita sudah dapat duit,” tuturnya.
Modal yang didapat dari pengagunan sertifikat tanah di Bank menjadi fondasi bisnis galangan kapal Hamadji. Keuntungan yang ia raih dari usaha ini pun tak main-main. “Kalau keuntungannya bisa sampai Rp500 juta per tahun. Bruto-nya 2 sampai 6 miliar,” bebernya.
Pria yang memiliki lima orang ini bahkan punya trik jitu untuk meningkatkan nilai jual tanahnya. Ia tidak ragu mengorbankan sebagian tanahnya untuk dijadikan akses jalan, yang pada akhirnya meningkatkan nilai asetnya.
Kesuksesan Hamadji juga tak lepas dari peran Kantor Pertanahan Baubau. Ia sangat mengapresiasi bantuan para pegawai yang selalu cepat memproses permohonan sertifikat tanah. “Bagi saya pegawai pertahanan itu sangat membantu masyarakat,” tuturnya.
Hamadji merasakan betul manfaat program PTSL Kementerian ATR/BPN terhadap usahanya. “Luar biasa. Saya ulangi lagi, kalau kita minta uang sama orang tua, tidak mungkin dia kasih kita. Tapi kalau dengan bantuan pertahanan, dia keluarkan sertifikat, sudah luar biasa,” tegasnya, menunjukkan dampak transformatif yang ia alami.
Ditemui terpisah, Kepala Kantor Pertanahan Baubau, Asmanto Mesman menjelaskan betapa pentingnya sertifikat tanah, bukan hanya sebagai bukti yang kuat, tetapi bisa menjadi jaminan bagi para kreditur. “Sertifikat itu sangat dipercaya oleh kreditur sebagai jaminan dalam rangka untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Asmanto juga mengungkapkan data mengejutkan bahwa di Indonesia saat ini sekitar 6.000 triliun investasi melalui sertifikat tanah. “Dampak dari PTSL 2017 sampai 2024 itu dihitung oleh Kementerian itu kurang lebih 6.000 triliun investasi dengan agunan sertifikat,” tuturnya.
Menurutnya, hal tersebut menunjukkan bahwa sertifikat tanah bukan hanya alat legalitas, melainkan juga instrumen vital dalam menggerakkan roda perekonomian Nasional saat ini.
”Salah satunya pak Hamadji. Itulah sertifikat menjadi kepercayaan pihak kreditur untuk memberikan pinjaman,” tambah Asmanto, merujuk kisah sukses Hamadji sebagai contoh nyata.
Kisah Hamadji adalah bukti nyata bahwa di tengah keterbatasan, inovasi dan pemanfaatan aset secara optimal dapat membawa seseorang dari jurang keputusasaan menuju puncak kesuksesan. Sertifikat tanah, yang sering hanya dipandang sebagai selembar dokumen bukti hak, ternyata mampu menjadi mesin pendorong mimpi bagi mereka yang berani melangkah.(Adm)












