BAUBAU, (PANTAUTODAY.COM) – Sistem Informasi Rumah Sakit dan Rekam Medis Elektronik (SIMRS-RME) di RSUD Kabupaten Buton Selatan (Busel) dilaporkan masih berfungsi baik dan terkoneksi dengan BPJS Kesehatan dan ter-bridging dengan Kementerian Kesehatan melalui platform Satu Sehat. Sistem ini vital untuk bagi RSUD Busel, namun efektivitasnya butuh jaringan internet yang baik.
Kepala Tata Usaha (KTU) RSUD Busel, Marwan menegaskan bahwa SIMRS-RME yang diadakan sejak 2023 ini terus beroperasi. “Sampai sekarang masih berjalan baik karena pengadaan dari 2023 itu berfungsi dan sudah terkoneksi BPJS dan ter-bridging dengan Kementerian Kesehatan dalam hal ini Satu Sehat,” ujar Marwan, dikonfirmasi Kamis (24/7/2025).
Meskipun sistem berjalan, Marwan mengakui adanya kendala jaringan internet yang kurang maksimal. Namun, ia memastikan bahwa tahun ini sudah ada penganggaran untuk meng-cover seluruh area rumah sakit dengan jaringan yang lebih kuat. “Busel ini kan jaringannya memang untuk di rumah sakit belum terkover semua, jadi untuk tahun ini itu sudah ada penganggaran untuk kami bisa meng-cover jaringan seluruh rumah sakit sehingga aplikasi-aplikasi seperti itu bisa terpakai maksimal,” jelasnya.
Selain jaringan, SDM RSUD Busel yang khusus menangani IT masih belum ada, tetapi tetap diupayakan. “Kalau untuk SDM-nya ini sementara juga kami usahakan,” kata Marwan.
Untuk sementara, RSUD Busel masih terus menjalin komunikasi aktif dengan vendor SIRS-RME tersebut yakni PT Serova. Vendor siap membantu mengatasi hambatan operasional aplikasi. “Ada hal-hal apa yang menjadi hambatan-hambatan dalam menjalankan aplikasi itu, masih ada komunikasi dengan vendor, dan vendor itu siap sedia untuk membantu,” tambahnya.
Direktur PT Serova, Roy Hari, mengakui sistem dirancang secara khusus (custom) agar mudah digunakan oleh tenaga kesehatan. Pihaknya pun masih memberikan bantuan teknis karena RSUD Busel belum didukung SDM dan internet yang memadai.
“Sistem ini sudah bisa digunakan dari pendaftaran hingga pelayanan poli dan laboratorium. Tapi kendalanya memang ada di jaringan, SDM, dan SOP internal tiap unit,” ujar Roy.
Ia juga menambahkan, sistem sudah berbasis cloud sehingga bisa berjalan selama ada koneksi internet, tanpa tergantung pada kualitas perangkat komputer rumah sakit.
Sampai saat ini, PT Serova secara sukarela terus memberikan bantuan kepada RSUD Busel meskipun kontraknya sudah berakhir. “Saya cek tim saya itu hampir tiap hari, karena emang enggak ada IT-nya, akhirnya kita handle,” tutur Roy.
Pihaknya melakukan itu karena melihat ada niat baik dan keseriusan dari masing-masing petugas di RSUD Busel untuk belajar agar bisa mahir mengoperasikan sistem tersebut.
Mantan Direktur RSUD Buton Selatan, dr Frederik Tangke Allo, yang menjabat saat pengadaan SIRS-RME pada 2023, menjelaskan bahwa sistem ini merupakan kewajiban bagi setiap rumah sakit. “Ini menjadi syarat untuk kita bisa melayani pasien yang terkait pasien BPJS, kemudian harus terkoneksi dengan BPJS, ter-bridging dengan Kementerian Kesehatan Satu Sehat,” jelas Frederik.
Frederik berharap manajemen baru dapat menyediakan internet yang lebih memadai sehingga sistem bisa berjalan optimal. “Pemberitaan-pemberitaan yang terkait bahwa itu tidak bermanfaat, saya kira sangat bermanfaat,” tegasnya.
Frederik juga menekankan bahwa SIRS-RME bertujuan untuk peningkatan kualitas pelayanan. Ia menyebut, sistem ini digunakan juga sebagai sarana komunikasi internal antardokter, pelaporan manajemen, hingga pemantauan keuangan. “Sistem yang sudah bagus, kemudian kecepatan dalam analisa, kalau ini sudah dimanfaatkan semua, ya maka itu pasti akan menghasilkan pelayanan yang lebih berkualitas,” pungkasnya.
Dengan upaya penguatan jaringan internet dan pengembangan SDM, diharapkan SIMRS-RME di RSUD Busel dapat beroperasi secara lebih maksimal, meningkatkan efisiensi pelayanan, dan mendukung perkembangan teknologi di Buton Selatan.(Adm)












