BAUBAU, (PANTAUTODAY.COM) – Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), timbulan sampah di Kota Baubau mencapai 81,9 ton sampah setiap hari, dengan asumsi setiap penduduk baik anak-anak maupun orang dewasa menghasilkan rata-rata 0,5 kilogram sampah per hari. Dari jumlah itu, sekitar 61,2 persen berasal dari rumah tangga, sisanya dari pasar, perkantoran, hingga kawasan niaga.
Menanggapi volume sampah yang tinggi, Pemerintah Kota Baubau melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) tidak lagi menggunakan sistem pembuangan terbuka atau open dumping. Sebaliknya, DLH telah beralih ke sistem controlled landfill di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Wakonti.
Dalam sistem ini, sampah yang terhampar ditutup secara berkala dengan tanah untuk mengurangi dampak buruk terhadap lingkungan, mencegah bau dan mempercepat penguraian sampah organik.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DLH Baubau, Amiruddin mengatakan, sistem ini terbukti lebih ramah lingkungan. Hal ini juga diperkuat oleh tim dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Wilayah Sulawesi Maluku yang memantau langsung pengelolaan sampah di Baubau pada awal Agustus 2025 lalu.
”Mereka menyatakan bahwa TPA Baubau bukan lagi open dumping, melainkan controlled landfill,” ujar Amiruddin, di Baubau, Rabu (24/9/2025).
Meski demikian, Tim KLH merekomendasikan agar Baubau lebih fokus pada pengurangan sampah dari sumbernya. Edukasi kepada masyarakat menjadi kunci utama, terutama dalam hal pemilahan sampah organik dan non-organik dari rumah. Langkah ini sejalan dengan konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle), yang diharapkan dapat mengurangi beban TPA secara signifikan.
”Kita harus memikirkan bagaimana mereduksi sampah agar tidak semua masuk ke TPA,” kata Amiruddin.
Selain itu, DLH Baubau juga sedang merencanakan pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST). TPST merupakan sistem pengelolaan sampah yang lebih kompleks, karena sampah langsung dipilah begitu tiba.
Dengan sistem ini, jelas Amiruddin, sampah organik bisa diolah menjadi kompos, budidaya cacing atau maggot, sedangkan sampah plastik dapat didaur ulang menjadi bahan bangunan seperti tegel.
Selain TPST, Pemkot Baubau juga mempertimbangkan pengadaan insinerator atau alat pembakar sampah modern yang ramah lingkungan. Insinerator ini dapat memusnahkan sampah yang tidak dapat diolah lagi, dengan bahan bakar dari sampah itu sendiri.
”Alat ini tanpa asap dan tanpa bahan bakar dari luar. Ini sangat penting untuk pengelolaan sampah ke depan,” ujarnya.
Dengan populasi yang terus bertambah, DLH Baubau menyadari pentingnya inovasi dalam pengelolaan sampah. Target jangka panjang adalah sistem zero waste atau nol sampah, di mana tidak ada lagi sampah yang dibuang ke TPA.
Karena itu, Amiruddin mengatakan, pembangunan TPST dan pengadaan insinerator menjadi langkah strategis untuk mewujudkan target tersebut, memastikan Kota Baubau dapat mengelola sampahnya secara berkelanjutan di masa depan.(Adm)












